GBS (Guillain Barre syndrome)

GBS (Guillain Barre syndrome) merupakan penyakit autoimun, dimana sistem imun tubuh menyerang bagian dari sistem saraf tepi yaitu mielin (demielinasi) dan akson (degenerasi aksonal). Akson adalah tonjolan tunggal dan panjang yang menghantarkan informasi keluar dari badan sel. Mielin adalah selubung yang mengelilingi akson, merupakan suatu kompleks protein-lemak berwarna putih. GBS ditandai dengan polineuropati yang menyeluruh: paralisis ekstremitas, badan atas dan wajah; menghilangnya refleks tendon; berkurangnya fungsi sensoris (nyeri dan suhu) dari badan ke otak; disfungsi otonom dan depresi pernafasan. Gejalanya biasanya perlahan, mulai dari bawah ke atas. 1,2,3
Banyak istilah telah dipakai untuk penyakit itu diantaranya, infectious polyneuritis, acute segmentally demyelinating Polyradiculoneuropathy, acute polyneuritis with facial diplegia, acute polyradiculitis, atau Guillain Barre Strohl Syndrome.4
Penyebab pasti GBS belum diketahui. Kejadian GBS sering didahului oleh hal-hal berikut: (1) infeksi traktus respiratorius atau traktus ganstrointestinal (pada 2/3 kasus), (2) vaksinasi. Mekanisme yang mendasari munculnya GBS adalah respon abnormal dari sel-T akibat infeksi.5
Mekanisme imun selular dan humoral tampak berperan, lesi inflamasi awal akan menyebabkan infiltrasi limfosit dan makrofag pada komponen mielin. Pada gambaran dengan mikroskop elektron tampak bahwa makrofag merusak selubung mielin. Faktor imun humoral seperti antibodi, antimielin, dan komplemen ikut berperan dalam proses oponisasi makrofag pada sel Schwann. Proses ini dapat diamati baik pada radiks saraf, saraf tepi, dan saraf kranialis. Sitokin ikut pula berperan , hal ini ditunjukkan dengan korelasi klinik Tumor Necrotic Factor (TNF) dengan beratnya kelainan elektrofisiologik.5
Sejak berkurangnya penyakit poliomyelitis di seluruh dunia, GBS menjadi penyakit paralisis akut yang tersering, khususnya di negara-negara Barat dengan angka kejadian 1,3 – 1,8 kasus per 100.000 orang 3,4. Di Amerika Serikat, angka kejadian GBS berkisar antara 0,4 – 2,0 per 100.000 orang, tapi dari penelitian pada beberapa rumah sakit memperkirakan frekuensinya sebanyak 15%. Tidak ditemukan adanya hubungan musim dengan kejadian GBS di Amerika Serikat 2.
Respon imun pada GBS dipercaya langsung menyerang komponen glikolipid dari aksolema dan selubung mielin. Antibodi pada saraf perifer akan mengaktivasi sistem komplemen dan makrofag, sehingga akan muncul sitotoksisitas seluler yang tergantung pada antibodi, terhadap komponen mielin dan aksolemma.5
Kerusakan selubung mielin akan menyebabkan demielinasi segmental, yang menyebabkan menurunnya kecepatan hantar saraf dan conduction block. GBS tipe aksonal disebut juga sebagai AMAN, terutama ditandai oleh kerusakan aksonal yang nyata.5
Di era kedokteran modern pertama, ada penyakit yang mirip dengan GBS yang ditemukan oleh Landry pada tahun 1859. Kemudian, Osler pada tahun 1892 mengembangkan secara lebih detail jumlah penyakit yang disebutnya sebagai acute febrile polyneuritis. Pada tahun 1916, Guillan, Barre, and Strohl lebih banyak menggambarkan gejala klinisnya dan pertama kali dikemukakan mengenai gambaran tentang keadaan cairan serebrospinal, disosiasi sitologi albumin (dalam cairan serebrospinal yang normal terdapat elevasi protein). 6
Saat ini, epidemi penyakit yang menyerupai GBS ditemukan setiap tahun di beberapa daerah di Cina Utara, terutama terjadi pada musim panas. Epidemi ini berhubungan dengan infeksi Campylobacter jejuni, dan banyak ditemukan antibodi antiglikolipid pada pasien. Karena penyakit ini banyak menyebabkan degenerasi akson motorik perifer tanpa banyaknya inflamasi, sindrom ini disebut Acute Motor Axonal Neuropathy (AMAN) 2. AMAN terdapat pada 40% di negara Cina dan Jepang. 7
Saat ini riset sedang mengkonsentrasikan pada antibodi anti-gangliosid yang terdapat pada strain Campylobacter jejuni. Antibodi ini menyerang gangliosid normal yang berada pada jaringan saraf perifer.
Daftar Pustaka
1. Ikatan Fisioterapi Indonesia Cabang Surabaya. Available from : URL : http://www.fisiosby.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11&Itemid=7. [diakses tanggal 20 Februari 2010]. Last update ; 2008.
2. Guyton AC, Hall JE. Membran fisiologi, saraf, dan otot. Dalam: Setiawan I, editor bahasa Indonesia. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 9. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 1997. h. 84-6
3. Hartwig MS, Wilson LM. Anatomi dan fisiologi sistem saraf. Dalam: Hartanto H, Susi N, Wulansari P, Mahanani DA, editor bahasa Indonesia. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.. Volume 2 edisi 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2002. h.1007-16
4. Tarjana A, Gunawan D, Taib S. Polineuritis Akut Idiopatik. Cermin Dunia Kedokteran 1979;16:15-24.
5. Pinzon R. Sindrom Guillain-Barre: kajian pustaka. Dexa media 2007: 1(20); 44-5
6. Emedicine. Specialties. Guillain-Barre Syndrome in Childhood. Available at http://emedicine.com
7. Hughes RA et al. Campylobacter jejuni in Guillain Barre Syndrome Available at http://Neurology . Thelancat.com

JENJANG KARIR PERAWAT

PENGEMBANGAN SISTEM JENJANG KARIR PROFESIONAL  PERAWAT

DI RSUD Ungaran

 

  1. A.   LATAR BELAKANG

Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari pelayanan di rumah sakit dan merupakan komponen yang menentukan kualitas baik buruknya  pelayanan suatu rumah sakit. Penyelenggaraan pelayanan keperawatan di rumah sakit ditentukan oleh 3 komponen utama yaitu : jens pelayanan keperawatan yang diberikan, sumber daya manusia perawat sebagai pemberi pelayanan dan manajemen sebagai tata kelola pemberi pelayanan. Jenis pelayanan keperawatan  di rumah sakit terdiri dari pelayanan keperawatan umum atau dasar serta pelayanan spesialis atau lanjut. Untuk penyelenggaraannya diperlukan standar pelayanan, pendekatan proses keperawatan serta indikator mutu pelayanan sebagai tolak ukur keberhasilannya.

Pelayanan bermutu memerlukan tenaga professional yang didukung oleh factor internal antara lain motivasi untuk mengembangkan karir professional dan tutjuan pribadinya maupun factor ekternal, anatara lain kebijakan organisasi, kepemimpinan, struktur organisasi, sistem penugasan dan pembinaan.

Proporsi tenaga perawat di RSUD Ungaran mencapai 50-60% dari jumlah tenaga kesehatan yang ada. Dari kualifikasi pendidikan terdapat beberapa kategori tenaga perawat yaitu terdiri dari : SPK,DIII, S1/Ners.

Pada saat ini, system pengembangan jenjang karier dalam konteks system penghargaan bagi perawat sudah dikembangkan untuk PNS di RSUD Ungaran melalui jabatan fugsional perawat yang ditetapkan berdasarkan SK MENPAN No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang jabatan fungsinal perawat dan angka kreditnya, walaupun belum sepenuhnya berbasis kompetensi. Dengan adanya system jenjang karier professional perawat diharapkan kinerja perawat semakin meningkat sehingga mutu pelayanan keperawatan juga meningkat. Akan tetapi pengembangan karier perawat yang ada sekarang lebih menekankan pada posisi / jabatan baik structural maupun fungsinal (job career) sedangkan jenjang karier professional berfokus pada pengembangan jenjang karier professional yang sifatnya individual. Untuk itu perlu dikembangkan jenjang karier professional bagi perawat yang bekerja di RSUD Ungaran dan buku pedomanya. Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan Komite Keperawatan dalam upaya mengembangkan jenjang karier dalam konteks system penghargaan bagi perawat RSUD Ungaran .

 

  1. B.   TUJUAN
    1. 1.    Tujuan Umum

Meningkatkan professionalisme dan akuntabilitas perawat klinik yang bekerja di RSUD Ungaran terhadap masyarakat

  1. 2.    Tujuan Khusus

a)    Adanya persamaan persepsi berbagai pihak tentang system pengembangan karir professional perawat klinik di RSUD Ungaran.

b)    Adanya system jenjang karir professional perawat dalam konteks system penghargaan bagi perawat klinik di RSUD Ungaran.

c)    Sebagai pedoman Komite Keperawatan dalam mengengembangan pola karir professional perawat klinik di RSUD Ungaran.

 

  1. C.   RUANG LINGKUP

Adapun ruang lingkup system jenjang karier professional perawat di RSUD Ungaran adalah yaitu :

  1. Perawat Klinik (PK) yaitu perawat yang memberikan asuhan keperawatan langsung pada klien sebagai individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
  2. Perawat Manajer (PM) yaitu perawat yang mengelola pelayanan keperawatan disarana kesehatan, baik sebagai pengelola tingkat bawah, tingkat menengah maupun tingkat atas.

 

  1. D.   JENJANG KARIR PERAWAT
    1. Pengertian

Jenjang karier merupakan system untuk meningkatkan kinerja dan professionalism, sesuai dengan bidang pekerjaan melalui peningkatan kompetensi (Depkes, 2008) Dalam pengembangan system jenjang karir professional dapat dibedakan antara pekerjaan (job) dan karir (career).

Pekerjaan diartikan sebagai suatu posisi atau jabatan yang diberikan , serta ada keterikatan hubungan antara atasan dan bawahan dan mendapat imbalan uang.

Karir diartikan sebagai suatu jenjang yang dipilih individu untuk dapat memenuhi kepuasan kerja perawat  dan mengarah vpada keberhasilan pekerjaan sehingga pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap bidang profesi yang dipilihnya.

 

  1. Prinsip Pengembangan
    1. Kualifikasi

Kualifikasi dimulai dari perawat dengan Pendidikan DIII Keperawatan.

  1. Penjenjangan

Penjenjangan mempunyai makna tingkatan kompetensi untuk melaksanakan asuhan keperawatan.yang akuntabel dan etis sesuai dengan batasan kewenangan praktik dan kompleksitas masalah klien.

  1. Penerapan asuhan keperawatan.

Fungsi utama perawat klinik adalah memberikan asuhan keperawatanlangsung sesuai standar praktik dank ode etik.

  1. Kesempatan yang sama

Setiap perawat klinik yang bekerja di RSUD Ungaran mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan karir sampai jenjang karir professional tertinggi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

  1. Standar profesi.

Perawat yang bekerja di RSUD Ungaran dalam memberikan asuhan keperawatan mengacu pada standart praktek dank ode etik keperawatan.

 

  1. Penjenjangan Karir  Professional Perawat Klinik
    1. Perawat Klinik I (novice)

Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 2 tahun atau Ners dengan pengalaman keja 0 tahundan memiliki sertifikat PK –I.

  1. Perawat Klinik II (Advence Beginer)

Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 5 tahun atau Ners dengan pengalaman keja 3 tahun dan memiliki sertifikat PK –II.

  1. Perawat Klinik III (Competent)

Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 9 tahun atau Ners dengan pengalaman keja 6 tahun atau Ners Specialis dengan pengalaman kerja 0 tahun dan memiliki sertifikat PK –III.

Bagi lulusan D III  yang tidak melanjutkan S1 tidak dapat melanjutkan ke jenjang karier PK – IV.

  1. Perawat Klinik IV

Perawat lulusan Ners dengan pengalaman keja 9 tahun atau Ners Specialis dengan pengalaman kerja 2 tahun dan memiliki sertifikat PK –IV. UNTUK Ners Konsultan dengan pengalaman kerja 0 tahun.

  1. Perawat Klinik V (expert)

Perawat klinik V adalah ners specialis dengan pengalaman kerja 4 tahun atau ners specialis konsultan dengan pengalaman kerja 1 tahun dan memiliki sertivikat PK –V.

  1. Penjenjangan Karir  Professional Perawat Manajer
    1. Perawat Manajer  I
    2. Perawat Manajer  II
    3. Perawat Manajer III
    4. Perawat Manajer  IV
    5. Perawat Manajer  V

 

  1. E.    SARAT – SARAT PENJENJANGAN KARIR PERAWAT
    1. Memiliki kompetensi yang di persyaratkan
    2. Memiliki pengalaman kerja
    3. Mengikuti pendidikan formal / serifikasi
    4. Lulus uji kompetensi
    5. Memiliki SIP, SIK dan SIPP

 

  1. F.    SERTIFIKASI

Program sertifikasi dilaksanakan oleh organisasi PPNI. Dalam masa transisi sebelum terbentuk konsil keperawatan Indonesia, uji sertifikasi dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)  yang terdiri dari unsure PPNI dan stakeholders terkait.

 

  1. G.   REMUNERASI

Agar jenjang karir dapat dilaksanakansecara optimal harus didukung oleh system remunerasi. Setiap kenaikan dari satu jenjang karir ke jenjag karir lebih tinggi perlu dikuti dengan pemberian remunerasi sesuai dengan kinerja pada setiap jenjang.

 

  1. H.   EVALUASI JENJANG KARIR PERAWAT PROFESSIONAL

Jenjang kari professional perawat harus dievaluasi secara konsisten dan tersetruktur dan mencakup komponen meliputi :

  1. Evaluasi Kompetensi Asuhan keperawatan
  2. Evaluasi Penampilan Kerja
  3. Evaluasi Pengetahuan Profesional
  4. Evaluasi Komunikasi dan organisasi
  5. Evaluasi Kompetensi Manajemen
  6. Evaluasi Mnajemen Riset

 

  1. I.      MASA PERALIHAN

Pemberlakuan jenjang karir professional perawat dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan dengan mempertahankan kelangsungan asuhan keperawatan serta kebijakan dari manajemen.

Aadapun langkah – langkah dalam penjenjangan karir perawat adalah sebagai berikut ;

  1. Mapping ketenagaan
  2. Maching kualifikasi dengan pedoman jenjang karir :
  3. Pendidikan
  4. Pengalaman kerja keperawatan klinik
  5. Sertifikasi
  6. Challenge test sesuai dengan proses dengan jenjang karir
  7. Jika tidak lulus dialihkan jenjang yang lebih rendah
  8. Pendidikan formal bagi yang mau dan mampu sesuai dengan persiapan jenjang karir PK yang lebih tinggi.

 

  1. J.    PENUTUP

Hal – hal yang belum diatur dalam kerangka acuan kerja ini akan diatur kemudian.

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.